Leaderboard - New Slot

Lagi-Lagi Wall Street Melemah, Minyak Mentah Anjlok Jadi Biang Kerok

Oleh:
Michael Nagle / Bloomberg Pedagang bekerja di lantai bursa New York Stock Exchange.

Bisnis.com, JAKARTA - Babak baru aksi penghindaran risiko mencengkram bursa saham Amerika Serikat pada awal perdagangan Selasa (21/4/2020).

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average terpantau melemah 1,74 persen ke level 23.237,89. Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 1,52 persen ke level 2.780,25 dan indeks Nasdaq Composite turun 1,81 persen ke level 8.405,58.

In Article 1 - New Slot

Investor ekuitas mengabaikan tanda-tanda bahwa Kongres segerak menyepakati RUU pengeluaran baru untuk memerangi dampak pandemi virus corona.

Penurunan bersejarah di pasar minyak mentah berlanjut, dengan WTI kontrak Juni merosot hingga 42 persen setelah kontrak Mei berakhir di bawah nol untuk pertama kalinya dalam sejarah. Padahal, WTI kontrak Juni masih stabil di level US$22 saat kontrak Mei anjlok.

In Article 2 - New Slot

Penurunan harga minyak mungkin menandakan pukulan terhadap ekonomi global akan jauh lebih buruk daripada yang diantisipasi oleh investor. Meskipun sejumlah negara di seluruh dunia mengambil langkah tentatif menuju pembukaan kembali perekonomian, tanda-tanda bahwa AS akan mendorong pengeluaran tidak banyak mengimbangi kekhawatiran baru mengenai resesi ekonmi.

Laporan keuangan emiten menambah tekanan di pasar. Penurunan laba yang dalam sering kali dibarengi dengan penurunan proyeksi perusahan selama sisa tahun ini dan tanda-tanda bahwa investasi akan turun.

Netflix, Texas Instruments, dan Chipotle berada di antara sejumlah perusahaan yang berencana merilis laporan keuangan pada Selasa.

“Pasar tampaknya mengambil nafas setelah pemulihan yang cepat,” kata Candice Bangsund, manajer portofolio alokasi aset global di Fiera Capital Corp, seperti dikutip Bloomberg.

“Sebagian pergerakan pasar didorong oleh kejatuhan mendalam dan historis dalam harga minyak. Itu sebagian besar merupakan katalisator yang mengguncang sentimen pasar yang sudah rapuh," lanjutnya.

Editor: Hafiyyan

Berita Lainnya: